Headlines News :

Menikah Itu Saling Me- ; Tidak Sekedar Ingin Di-

Ditulis oleh: admin ,pada hari Jumat, 11 November 2016 | 08.21


Ustadz. ahmad Zarif beserta istri selaku Narasumber dan Konselor RKI

Kehadiran pasutri sebagai pembicara Seminar Keluarga Samara  yang diadakan Rumah Keluarga Indonesia (RKI) Wonogiri, Ahad (6/11) di RM Raos Eco menarik perhatian audiens yang mayoritas juga hadir berpasangan.

Darmi, S.Pd PAUD mengawali uraiannya dengan menjelaskan beberapa ragam keluarga dengan latar belakang karakter suami istri. Ada yang karakter dasarnya berbeda tapi bisa kompak. Sebaliknya, ada yang karakternya sama namun justru dalam keadaan konflik. Ada lagi yang wajar dan ideal yaitu karakter yang sama dan kompak. Yang paling ekstrim adalah ketika karakter keduanya berbeda dan selalu menimbulkan konflik.

"Dari situlah perlu adanya kesepakatan dalam keluarga karena pasutri ibarat pakaian yang fungsinya memperindah sekaligis menutup aib. Dari sinilah diharapkan adanya sinergi; dengan berkembangnya potensi kebaikan secara bersama" imbuh Darmi.

Selanjutnya, Kepala TK Mutiara 2 ini menandaskan bahwa prinsip pernikahan adalah SALING membahagiakan; tidak hanya minta DIbahagiakan,".

Di sinilah kita diajak untuk meredam ego yang kadang masih sering berselieweran.

Dalam seminar yang diikuti ratusan peserta ini, dijabarkan juga urgensi komunikasi romantis. Menurut Darmi, S.Pd PAUD, komunikasi romantis ini harus diaktualisasikan, tidak hanya dibatin. Baik secara verbal/lisan maupun non verbal/bahasa tubuh.



Dengan membiasakan komunikasi romantis dalam keluarga, diharapkan keluarga tersebut menjadi keluarga yg produktif. Tidak hanya produktif di luar, tapi juga di dalam rumah. Dengan memaksimalkan peran sebagai suami/ayah atau istri/ibu.

"Hendaknya sama maksimalnya dengan produktif di luar rumah," pungkas Darmi. (idho Nofrida)

Antara Romantisme, Ambulans dan Wiu-wiu

Ditulis oleh: admin ,pada hari Selasa, 27 September 2016 | 16.40

 

Mengalir dan antusias. Demikian "Vida" Robi'ah Al-adawiyah, SH membuka sesi perdana pada Seminar Keluarga Samara yang diselenggarakan oleh Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) DPD Wonogiri. Di panggung gedung SKB yang di-setting bernuansa romantis, aktifis  parenting ini mengajak ratusan peserta untuk mengevaluasi kembali pernikahan masing-masing. Lama usia pernikahan yang dimiliki harapannya berbanding lurus dengan kebahagiaan yang dirasakan. Termasuk seberapa besar kebahagiaan laki-laki/perempuan yang ditakdirkan menjadi suami/istri. Juga tentang sikap anak-anak. Seberapa banggakah mereka terhadap kedua orang tua berikut seabrek aktifitas yang melingkupi. Serta seberapa jauh potensi diri dan pasangan bisa melejit bersama. Karena pernikahan ini dalam konteks da'wah dan berbingkai ibadah. Menarik.


Ketua KPPA Benih Surakarta inipun mengingatkan tentang hubungan keluarga yang penuh gairah dengan soliditas internal.

"Gairah di sini tidak hanya secara biologis, melainkan semangat dan kemampuan untuk menjadikan keluarga solid," tegasnya.

Penulis dan pebisnis kuliner ini menutup sesi dengan ajakan untuk menjadi sosok yang produktif dalam kebaikan bersama seluruh anggota keluarganya, memberi kemanfaatan dan bersinergi dengan masyarakat.

Sementara itu, Hatta Syamsuddin, Lc lebih mengulas sisi praktis yang bisa diterapkan untuk meng-upgrade romantisme dalam keluarga.

Seorang muslim seharusnya ringan untuk berbicara dan bersikap romantis. Karena Rasulullah saw sendiri adalah sosok teladan dalam hal romantisme. Demikian ditegaskan oleh ustadz muda ini.

Lebih jauh, suami dari "Vida" Robi'ah Al-adawiyah, SH ini menyayangksn munculnya kesalah pahaman tentang romantis. Bahwa romantis itu identik dengan sesuatu yang mahal, sulit dan sedih. Semua berkonotasi negatif. Padahal, Islam jelas memberikan tuntunan prinsip SAMARA.

"Sakinah" menginspirasikan ajakan untuk saling memahami kelebihan dan kekurangan pasangan, fungsi dan tugad serta perbedaan esensial antara laki-laki dan perempuan.
Adapun "mawaddah" cenderung diaplikasikan dengan penjagaan penampilan, ucapan mesra serta perbuatan. Pada poin ini, bapak 5 anak yang juga penulis ini menggaris bawahi pentingnya seorang suami "ngegombalin" istri dan bagaimana istri berhias secantik mungkin untuk suami.

"Aku tanpamu bagaikan ambulan tanpa wiu-wiu". Demikian meme yang dipampangkan dalam slide Agak lebay tapi sangat mengena. Pesertapum berlomba mengabadikannya.

Sementara itu, "rahmah" disebut sebagai pencapaian tertinggi dalam sebuah pernikahan. Ada unsur lapang dada; menekan ego di sini.

Bagaimana mengubah "karena" menjadi "meskipun". "Aku mencintai suamiku MESKIPUN.....";  bukan lagi "Aku mencintai suamiku KARENA....".

Semua itu tidak bisa dicapai hanya dengan berucap sim salabim. Harus diawali dengan sebuah niat, tekad dan dibuktikan dengan berjalannya waktu. Proses. 

(idho Nofrida)

ROMANTIS TAK KENAL USIA

Ditulis oleh: admin ,pada hari Sabtu, 24 September 2016 | 15.55

Parwanti (kiri) Ketua BPKK DPD PKS Wonogiri
Wonogiri- Seiring bertambahnya usia rumah tangga bukan berarti romantisme dalam keluarga semakin memudar. “Sudah bukan masanya”. Mungkin demikian pendek kata, apalagi dengan semakin bertambahnya beban aktifitas keseharian dan tugas rutin lainnya kadang semakin memperunyam hubungan dan komunikasi dalam keluarga.  Padahal dalam keluargalah tempat kita berbagi dan mengurai semua permasalan maupun kebahagiaan.


Berangkat hal tersebut Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) DPD PKS Wonogiri esok, Ahad (25/9) akan menggelar acara “Jagongan Nganten Lawas”. Acara yang akan digelar pagi hingga siang hari tersebut berisi  berbagai macam kegiatan, diantarangya Seminar Keluarga Samara dengan pembicara Ustadz Hatta Samsudin beserta istri Vida Robi’ah Al-adawiyah, serta aneka games menarik. Acara ini nantinya akan diikuti oleh seluruh kader PKS, namun dalam pelaksanaannya akan di bagi dalam beberapa tahap.



Acara ini juga dimeriahkan dengan Launching Rumah Keluarga Indonesia (RKI), yaitu sebuah wadah yang mengurusi berbagai pernik masalah perempuan, anak dan keluarga. Termasuk di dalamnya adalah layanan konseling oleh konselor keluarga untuk melayani berbagai masalah kerumahtanggaan, tidak hanya kader namum yang lebih utama  adalah pelayanan kepada masyarakat luas yang membutuhkan bantuan. Nantinya kegiatan ini akan dilaksanakan secara rutin pada waktu yang akan ditentukan.



"Besok, di targetkan sebanyak 150 pasangan kader PKS Wonogiri akan menghadiri acara yang bertempat di gedung SKB ini," jelas Parwanti selaku Ketua BPKK DPD PKS Wonogiri.

Nyamik Saptati Lepas Pemberangkatan Calon Jama'ah Haji

Ditulis oleh: admin ,pada hari Senin, 15 Agustus 2016 | 16.16


Nyamik Saptati, S. Pd Anggota DPRD Woogiri (berbaju Putih)
Bertempat di pendopo Kecamatan Jatipurno Wonogiri, Minggu (14/8) berlangsung pelepasan calon jama'ah haji dari kecamatan Jatipurno. yang di hadiri FORKOPIMCAM, tokoh masyarakat dan keluarga calon jama'ah haji, tampak hadir pula dalam dalam kesempatan tersebut anggota DPRD Wonogiri yang juga warga asli setempat Nyamik Saptati, S. Pd.

Disela acara Nyamik Saptati mengucapakan selamat menjalankan ibadah haji dan semoga selama di tanah suci senantiasa diberikan kemudahan agar semua ritual ibadah bisa terlaksanan dengan baik lalu kembali ke tanah air dengan selamat, ia juga meminta kepada calon jama'ah saat di tanah suci selalu mendo'akan seluruh rakyat Indonesia khususya warga Wonogiri agar senantiasa diberikan rahmat dan kesejahteran dari Allah SWT.

Tahun ini dari kecamatan Jatipurno terdapat 40 calon jama'ah dari total 407 jama'ah yang berasal dari Kabupaten Wonogiri. Jama'ah haji Wonogiri dalam pemberangkatannya  terbagi menjadi dua kloter, yaitu kloter 18 sebanyak 355 jama'ah dan telah diberangkatkan menuju asrama haji Donohudan Minggu (14/8), dan kloter 55 sebanyak 52 jama'ah yang insyaAllah diberangkatkan tanggal 29 Agustus 2016.

Bekerja Dalam Senyap

Ditulis oleh: admin ,pada hari Jumat, 05 Agustus 2016 | 19.02





Matahari bergeser meninggalkan singgasana kebesarannya ketika acara Halal Bi Halal DPD PKS Wonogiri diakhiri dengan doa. Adzan asar siap menyambut kepergiannya. Ribuan kader dan simpatisan, perlahan tapi pasti mengair bah, keluar dari berbagai pintu aula joglo di salah satu sudut Kota Gaplek itu. Diiringi gelegar nasyid yang berpadu dengan langgam Jawa dan tembang kenangan milik Koes Plus, lautan manusia itupun terpecah di kompleks parkiran. Tingglah lokasi acara tergolek dalam sunyi.

Kursi plastik beraneka warna yang tertata rapi, sofa empuk di bagian depan, background acara berlatarbelakang putih dan tulisan warna kuning, serta tiang-tiang penyangga joglo penuh ukiran bermakna tersebut telah menjadi saksi atas kerja keras sebuah tim sukses. Ya, teamwork.

Ketika rerata massa menyebut kehebohan acara sepanjang siang. Ketika sebagian bersorak saat snack dan makan siang dibagikan. Ketika semua orang berkata: selamat dan sukses atas extraordinary programnya.

Namun, ada yang terlupa. Bahwa segala kehebohan, gebyar dan permainan rasa yang disajikan tak bisa lepas dari sebuah proses akbar. Rencana dan persiapan. Mengamalkan ilmu dari para motivator dunia. Bahwa suksesnya sebuah perencanaan menyiratkan terencananya sebuah kesuksesan.

Di sinilah ujian hati itu digelar. Ketika kerja-kerja sunyi ditebar. Siapa yang mendekor ruang utama. Siapa yang akan menghadiahkan tepuk tangan meski mereka harus rela membuka mata hingga pagi menjelang, saat para peserta terlelap dalam sebuah harapan. Keluarga hanya dititipi pesan: bu, nak, ayah malam ini tidak pulang. Ada amanah besar harus ditunaikan.

Siapa yang akan mencari tahu penanggungjawab konsumsi yang disedoakan. Saya belum dapat, mas, mbak. Itu yang biasa dilontarkan. Jika rasa, ujud dan porsi cocok di lidah, barulah senyum terkembang. Namun tak jarang kernyitan wajah dimunculkan, tatkala semua tak mengundang selera tuk habiskan. Sembari berbisik halus,"Kacange kurang empuk."

Pun pasukan keamanan. Selintas, tim ini hanya terlihat jalani posisi sebagai tukang parkir semata. Lupa. Bahwa tanggung jawabnya luar biasa besar. "Toh nyawa", orang Jawa bilang. Selalu waspada dalam segala kondisi, tidak boleh lengah saat yang lain menikmati acara. Siap siaga. Namun, siapa yang akan memandangnya sebagai tugas beresiko tinggi?

Bagian perijinanpun menjadi bagian dari korp tim pekerja dalam sunyi ini. Khalayak seolah hanya perlu memastikan lokasi acara. Segera dipastikan. Tanpa kucuran empati pada upaya kerasnya menembus dinding birokrasi dengan lobi-lobi.

Tim Acara, Seni budaya, bendahara dan tim media menambah panjang daftar keanggotaan tim senyap ini. Orang merasa kurang berkepentingan untuk mengetahui proposal acara dan pernik-pernik keadminiatrasian sekaligus pengelolaan dananya. Siapa di balik penulisan berita fenomenal yang menggemparkan media hingga menjadi viral pun tak begitu urgen. Pencetak gambar "berbicara" nan ekspresif pun bukan menjadi sesuatu yang penting untuk dibahas.

Tim senyap bekerja dalam sunyi. Amalkan konsep ikhlas yang sebenarnya. Di saat berjuta orang berlomba terkenal di sosmed, tim ini justru bekerja tanpa suara. Diam. Hanya resah yang berbicara: belum berupaya maksimal, belum bisa bersihkan hati. Nanar melihat orang lain terseok menjaga hati. Takut jika berbagai rasa yang tak semestinya ada justru meraja.

Ikhlas. Konsep Islam yang ditanamkan kuat dalam hati, Tanpa berharap imbalan dalam berbagai ujud.. Inilah yang akan menjadi sumber kekuatan  untuk bertahan dan tenggelam dalam berbagai amanah yang diemban. Lilaahi ta'ala.

Puisi sang Garuda di HBH PKS Wonogiri



Senyap menyelinap di sela gegap gempita suasana, tatkala lengkingan 4 anak muda menghentakkan ruangan bernuansa Jawa itu. Semua mata memandang ke titik yang sama. Panggung Halal Bi Halal PKS Wonogiri, Ahad 31 Juli 2016.



"Entah darimana aku harus memulai kegelisahan ini, sebuah dilema uang menghantui.

Setapak langkah seorang anak negeri, tatap nestapa pada nuansa nusantara.

Duhai, betapa porak poranda!! Narkoba, penjara, teror, korupsi, reklamasi, ekatrimis, pesimis!

Aku gelisah, aku marah, aku sekaligus merasa bersalah."



Mereka, kader muda PKS itu berkolaborasi suarakan hati lewat parade puisi.



Adalah Luthfi Izzati. Seorang pegiat Garuda Keadilan (GK)  yang mengarsiteki lahirnya puisi eksotis tersebut. Bertajuk "Setapak Renjana Sang Garuda", mahasiswi Teknik tingkat akhir ini mencoba menuangkan buncahan gelegak jiwanya. Sebuah kombinasi bakat dan minat yang unik.



Adapun Mukhid, Uswah, Shofia dan Aulia mencoba mengaduk-aduk rasa audiens dengan gelombang suara mereka yg berkelok..naik turun. Hingga pada titik tertentu, ratusan pasang matapun mengembun. Basah.



Ajakan untuk membuka mata akan kondisi bangsa pun membahana. Setelah untaian gelisah tertangkap. Resah. Gundah karena merasa belum banyak berbuat untuk bantu uraikan benang kusut permasalahan kompleks ini.



Rasa yang menyeruak inilah yang pada akhirnya membuka mata hati akan kiprah orang tua mereka selama ini. Berjuang dengan segenap potensi untuk satu kata kunci: perubahan hakiki. Meski anak-anak muda itulah yang harus merasakan konsekuensi. Sering ditinggal dalam sepi, namun justru terlatih untuk hidup mandiri.



"Karena garuda tlah membara di dada kami, menghimpun seluruh keadilan yang sejati di hati.

Maka kami tegak lurus di sisi RABBI, berjalan di setapak perjuangan.

Penuh dengan gagasan, perjuangan, rintangan!! Karena kami seorang garuda!!

Yang tidak rela tanah air ini tersiksa.

Darah perjuangan kami biarlah menyiram tanah, membasahi rindu akan tegaknya keadilan.

Bukan utopsi!!! Karena semua ini perlu optimis!!!"



Kesadaran itupun melecutkan semangat anak muda. Berkobar seakan tak ingin dihembus mati. Mereka nyatakan kesediaan untuk melanjutkan perjuangan suci. Dengan bimbingan dan arahan dari orang tua dan para pejuang keikhlasan sejati. Agar semakin menyadari dan mampu menikmati hakikat berlelah-lelah dalam menggapai asa.



Pun memetik pemahaman. Bahwa semua pengorbanan itu hanya untuk-Nya semata. Dengan ukhuwah, ilmu dan ibadah sebagai modalnya.



Duhai, Garuda Muda.. Kepakkan sayap kokohmu ke tempat mulia-Nya. Jangan pernah hinggap sebelum asamu menjadi nyata..!!!



"Kami ingin memahami, bahwa kami, sesungguhnya pantas menjadi alfatih di era baru zaman ini." 


Oleh : Idho Nofrida

Ribuan Fotomodel Beraksi di Halal Bi Halal PKS




Senyum merekah menghiasi wajah para peserta Halal Bi Halal PKS Wonogiri siang itu, Ahad 31 Juli 2016. Sumringah yang melekat itupun akhirnya "ditangkap" oleh sesosok pria muda dengan kamera yang tergantung di leher; bak fotografer profesional dan ternama.

"Mangga pak, bu.. Dipun foto rumiyin," sapa fotografer itu dengan ramah, sambil mempersilakan para tamu untuk berfoto bersama keluarga mereka. Tidak selazimnya aktifitas foto dalam studio, sang fotografer tidak banyak memberikan arahan pada "mangsa" jepretannya. Gaya dan ekspresi diserahkan pada para fotomodel dadakan tersebut. Ya, ternyata inilah sapaan "selamat datang" kepada ribuan kader dan simpatisan PKS yang membanjiri kawasan RM Saraswati, Brumbung, Wonogiri. Lomba foto keluarga.

Acara yang dibidani oleh Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) dan Garuda Keadilan (GK) ini dimaksudkan untuk menyemarakkan suasana Halal Bi Halal PKS Wonogiri. Kekompakan; kebersamaan dalam keluarga menjadi tema sentralnya. Demikian disampaikan oleh Kak Husain, Ketua Garuda Keadilan Wonogiri.

Lebih lanjut, pria ramah dan humoris ini menjelaskan beberapa poin yang menjadi kriteria untuk menentukan pemenangnya.

"Kompak secara banyak hal, misal kostum maupun anggota keluarga yang dihadirkan. Lalu kreatifitas gaya yang dipilih saat difoto. Terakhir adalah ekspresi. Natural atau dibuat-buat," imbuh pecinta anak ini.

Untuk mendukung itu semua, sisi barat kawasan parkiran pun disulap menjadi studio foto dadakan. Ratusan keluarga bergantian beraksi di depan kamera. Ada yang ekspresif tanpa beban. Lepas. Ada juga yang malu-malu karena tak terbiasa. Walhasil, gaya standarpun menjadi "trend" foto saat itu. Berdiri tegak lurus, sambil berusaha menarik bibir beberapa sentimeter ke kiri dan kanan. Tersenyum. Dan..jepret!

"Wah, lumayan tegang juga tadi, mbak. Mboten kulina. Yah, hitung-hitung latihan berfoto. Siapa tahu di antara sekian banyak kader dan simpatisan PKS ini, suatu saat nanti dapat amanah sebagai pejabat publik. Sudah luwes, kan. Elok tenan pembekalannya, mbak," komentar seorang ibu peserta lomba foto keluarga dengan kocaknya.

Di penghujung acara Halal Bi Halal tersebut, diumumkanlah 3 pemenang lomba foto keluarga tadi. Sebuah harapan membuncah, bahwasanya lomba ini tidak sekedar menjadi ajang bergaya, apalagi audisi supermodel. Namun, semua keluarga kader dan simpatisan PKS se-Wonogiri tetap menjaga keharmonisan, kekompakan keluarga kecil mereka di tengah segala himpitan hidup. 


Kontributor : Idho Nofrida

Ini Dia Rahasia Pelatihan Kepemimpinan Kader Muda PKS

Ditulis oleh: admin ,pada hari Senin, 01 Agustus 2016 | 16.54




Lazimnya pelatihan, diadakan indoor dan outdoor. Penyajian materi dilengkapi dengan seperangkat tayangan slide lewat LCD, sekaligus berbagai games yang dikemas apik. Tujuannya tak lain adalah optimalisasi seluruh organ tubuh untuk menyerap info.



Pun dengan kader muda-sebutan untuk anak kader-PKS Wonogiri, Ahad 31 Juli 2016. Dalam rangkaian acara Halal Bi Halal DPD PKS yang dihadiri ribuan kader dan simpatisan se-Wonogiri ini, merekapun mendapatkan porsi pelatihan tersendiri. Setiap jenjang usia sejak batita hingga remaja tak luput dari "proyek akbar" persiapan regenerasi ini.



Adalah Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) dan Garuda Keadilan (GK) yang menggawanginya. Ajang bermain dan pementasan di atas panggung dijadikan sebagai sarana proses pelatihan itu. Sepertinya terdengar berlebihan. Lebay. Namun sebenarnya amatlah logis.



Jika diamati, beberapa permainan untuk usia batita sampai dengan SD bernuansakan optimalisasi daya imajinasi dan kreatifitas. Sebutlah play dough. Permainan membuat berbagai tiruan benda ini melatih otak kanan untuk bekerja maksimal. Bagaimana membuat bentuk es krim, rumah, sate, buah, dll. Pun puzzle tikarnya. Sebagian anak menyulapnya menjadi kubus, rumah-rumahan, jalan setapak di tengah taman, bahkan kursi goyang! Dahsyat, bukan?😅Begitu juga dengan kereta kuda tiruannya. Membuat mereka membayangkan sedang menjadi seorang sais kereta.



Selain itu, dalam permainan menembak bekas wadah agar-agar, anak-anak dilatih berkonsentrasi penuh. Fokus. Sekaligus mengenal olahraga yang mirip dengan panahan ini. Sunnah Rasul-Nya.



Sementara, bakiak tandem mengajarkan tentang pentingnya kerjasama, kekompakan serta pengaturan strategi kelompok. Ini tidak bisa dipisahkan dalam proses kepemimpinan. Ego yang berlebihan akan mampu menghancurleburkan kereta organisasi. Muflis. Bangkrut.



Uji keberanian dan percaya diripun menyeruak saat beberapa kader muda yang tergabung dalam GK melantunkan parade tahfidzul Qur'an serta puisi syahdu. Berdiri dan disaksikan ratusan pasang mata membutuhkan mental baja, karena grogi dan stres berpeluang besar untuk merajalela. Seorang pemimpin yang peragu, mudah panik dan percaya dirinya rendah akan mudah sekali digoyang oleh musuh. Bagaimana ia akan mengayomi orang-orang yang dipimpinnya jika mengayomi dirinya sendiripun tak mampu.



Semua permainan tadi sebenarnya bermuara pada satu hal, yaitu goal setting. Pemimpin harus memiliki visi dan misi yang jelas atas kepemimpinannya. Mau dibawa ke mana orang-orang yang dipimpinnya. Tak sekedar dilantik dan memiliki program kerja.

Bermimpi, visioner, dilandasi dengan kesadaran yang tak bertepi.


Inshaa Allah sekian tahun ke depan kader muda PKS siap menerima tongkat estafet kepemimpinan itu. Dengan segenap ikhtiar dan izin-Nya.


Kontributor : Idho Nofrida

Sering dibaca

Info Baru

Info Baru

Taujih Rabbani


Buku Tamu

FB Like

 
Support : Creating Website | FB
Copyright © 2011. PKS WONOGIRI - All Rights Reserved
Template Created by maskolis Published by Mas Template
Re Design by bismillahcom