Headlines News :
Home » » Antara Romantisme, Ambulans dan Wiu-wiu

Antara Romantisme, Ambulans dan Wiu-wiu

Ditulis oleh: admin ,pada hari Selasa, 27 September 2016 | 16.40

 

Mengalir dan antusias. Demikian "Vida" Robi'ah Al-adawiyah, SH membuka sesi perdana pada Seminar Keluarga Samara yang diselenggarakan oleh Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) DPD Wonogiri. Di panggung gedung SKB yang di-setting bernuansa romantis, aktifis  parenting ini mengajak ratusan peserta untuk mengevaluasi kembali pernikahan masing-masing. Lama usia pernikahan yang dimiliki harapannya berbanding lurus dengan kebahagiaan yang dirasakan. Termasuk seberapa besar kebahagiaan laki-laki/perempuan yang ditakdirkan menjadi suami/istri. Juga tentang sikap anak-anak. Seberapa banggakah mereka terhadap kedua orang tua berikut seabrek aktifitas yang melingkupi. Serta seberapa jauh potensi diri dan pasangan bisa melejit bersama. Karena pernikahan ini dalam konteks da'wah dan berbingkai ibadah. Menarik.


Ketua KPPA Benih Surakarta inipun mengingatkan tentang hubungan keluarga yang penuh gairah dengan soliditas internal.

"Gairah di sini tidak hanya secara biologis, melainkan semangat dan kemampuan untuk menjadikan keluarga solid," tegasnya.

Penulis dan pebisnis kuliner ini menutup sesi dengan ajakan untuk menjadi sosok yang produktif dalam kebaikan bersama seluruh anggota keluarganya, memberi kemanfaatan dan bersinergi dengan masyarakat.

Sementara itu, Hatta Syamsuddin, Lc lebih mengulas sisi praktis yang bisa diterapkan untuk meng-upgrade romantisme dalam keluarga.

Seorang muslim seharusnya ringan untuk berbicara dan bersikap romantis. Karena Rasulullah saw sendiri adalah sosok teladan dalam hal romantisme. Demikian ditegaskan oleh ustadz muda ini.

Lebih jauh, suami dari "Vida" Robi'ah Al-adawiyah, SH ini menyayangksn munculnya kesalah pahaman tentang romantis. Bahwa romantis itu identik dengan sesuatu yang mahal, sulit dan sedih. Semua berkonotasi negatif. Padahal, Islam jelas memberikan tuntunan prinsip SAMARA.

"Sakinah" menginspirasikan ajakan untuk saling memahami kelebihan dan kekurangan pasangan, fungsi dan tugad serta perbedaan esensial antara laki-laki dan perempuan.
Adapun "mawaddah" cenderung diaplikasikan dengan penjagaan penampilan, ucapan mesra serta perbuatan. Pada poin ini, bapak 5 anak yang juga penulis ini menggaris bawahi pentingnya seorang suami "ngegombalin" istri dan bagaimana istri berhias secantik mungkin untuk suami.

"Aku tanpamu bagaikan ambulan tanpa wiu-wiu". Demikian meme yang dipampangkan dalam slide Agak lebay tapi sangat mengena. Pesertapum berlomba mengabadikannya.

Sementara itu, "rahmah" disebut sebagai pencapaian tertinggi dalam sebuah pernikahan. Ada unsur lapang dada; menekan ego di sini.

Bagaimana mengubah "karena" menjadi "meskipun". "Aku mencintai suamiku MESKIPUN.....";  bukan lagi "Aku mencintai suamiku KARENA....".

Semua itu tidak bisa dicapai hanya dengan berucap sim salabim. Harus diawali dengan sebuah niat, tekad dan dibuktikan dengan berjalannya waktu. Proses. 

(idho Nofrida)
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Info Baru

Info Baru

Taujih Rabbani


Buku Tamu

FB Like

 
Support : Creating Website | FB
Copyright © 2011. PKS WONOGIRI - All Rights Reserved
Template Created by maskolis Published by Mas Template
Re Design by bismillahcom